Catatan harian Siti Muji Rahayu, S.Pd (Guru Bahasa Indonesia) FILM

Image result for FILM

Catatan harian Siti Muji Rahayu, S.Pd

(Guru Bahasa Indonesia)

Mengajar kelas putra adalah hal yang cukup menguras tenaga dan kesabaran.  Saya yakin bukan hanya saya yang merasakan hal itu.

picture source

Memang,  kelas putra yang terdiri atas anak-anak yang memiliki berbagai macam kelebihan dan kadang begitu “luar biasanya” sehingga tak ayal membuat kesabaran kita hampir lepas. Tidak saya pungkiri, saya pun sering merasakan emosi yang kembang kempis,  bahkan kadang patah semangat dengan segala tingkah pola mereka,  tetapi saya segera menepisnya.  Dalam hati,  saya berujar “Aku tidak boleh kalah dengan mereka”. Segala kemampuan harus dikerahkan, segala jurus harus disilatkan,  demi mereka,  untuk mereka  agar mereka bisa berubah, minimal mereka mau belajar dan pastinya, mereka tidak tidur ketika kita sedang menjelaskan dan saat mengerjakan tugas.

Image result for FILM

picture source

Hari ini, di salah satu kelas 8 putra, pembelajaran saya sampai pada materi teks ulasan yaitu KD 4.11 Menceritakan kembali isi teks ulasan tentang kualitas karya (film, cerpen, puisi, novel, karya seni daerah) yang dibaca atau didengar,  saya menggunakan media “Bermain Pasang-Tempel-Isi”. Ini bukanlah media yang baru karena saya yakin guru-guru lainpun pernah bahkan sering menggunakannya. Yang saya tekankan di sini, ketika anak-anak diberi aktivitas yang melibatkan motorik mereka, mereka pun secara aktif menanggapinya dengan baik.  Saya lihat,  mereka yang awalnya  terlihat mengantuk dan malas-malasan menjadi bersemangat.  Bahkan anak-anak yang dalam catatan saya selama mengajar mendapat catatan kurang baik, mereka pun terlihat aktif. Begitu pun dalam kegiatan diskusi. Mereka saling berbagi tugas. Ada yang menggunting, menempel, dan menulis. Mereka menyelesaikan tugas bersama-sama. Mereka pun dapat menyelesaikan sesuai deadline yang ditentukan. Walaupun sesekali mereka masih bertanya dan sesekali pula mengajak bercanda.

Dari catatan saya, intinya, mengajar di kelas putra kita harus bisa menjadi karang yang tidak mudah tumbang meskipun amuk badai dan ombak bertubi-tubi menghantam.

Berikan mereka sentuhan.

Bimbing mereka dengan kesabaran.

Dan perankan tokoh kita dengan maksimal.

Adakalanya kita menjadi pendakwah.

Adakalanya kita menjadi guru TK.

Adakalanya kita menjadi orang tua.

Adakalanya kita  menjadi teman.

Dan adakalanya kita menjadi polisi.

Pahami mereka dengan kelapangan hati karena mereka adalah anak-anak yang masih berproses menjadi individu yang benar-benar baik. Ibarat siklus kupu-kupu, mereka masih menjadi ulat. Oleh karena itu tidak mengherankan jika kadang kita tergigit dan merasa gatal. Apapun itu, semoga tidak pernah mengendurkan semangat kita dalam mendidik dan mengantarkan mereka menjadi generasi yang bermutu secara akhlak dan intelektual. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *