Catatan hari Minggu Syarifa Aini, S.Pd (Guru Matematika) Pengajian rutin KH. Nurcholish Misbah Ahad, 4 maret 2018

Image result for kiai haji nurcholis misbah junwangi

Catatan hari Minggu Syarifa Aini, S.Pd
(Guru Matematika)

Ahad, 4 maret 2018. Pengajian rutin KH. Nurcholish Misbah yang diadakan setiap minggu pertama dan ketiga kali ini baru dimulai ketika waktu menunjukkan pukul 09.10 WIB. Masih sedikit wali santri yang hadir di masjid hanya sekitar 10-15 orang. Namun beliau harus tetap memulainya demi kedisiplinan waktu yang senantiasa beliau jaga. Romo Kyai memulainya dengan membaca Al-Fatihah sebagai istighosah kita pada Allah.

Beliau kemudian mengingatkan tentang tema pada pertemuan 2 minggu yang lalu yaitu asma Allah “Asy-syahid” yang artinya Maha menyaksikan. Ini menunjukkan keluasan pengetahuan-Nya terhadap gerak gerik manusia.
Allah terlalu sayang pada hambanya untuk itulah Allah memberi bermacam-macam dan bertubi-tubi pada hambanya. Karena Allah sudah pasti mengetahui masalah hambanya, maka Allah pula yang akan memberi solusinya. untuk itu jadilah hamba yang mempunyai sikap:

1. Selalu berpikir dan bersikap positif terhadap segala permasalahan. Karena di dalam setiap permasalahan itu hakekatnya manusia manusia sedang diuji. Maka manusia srlalu mencari

2. Mampu menjadi uswah di lingkungan terkecil kita, rumah tangga misalnya hendaknya anak-anak bangga terhadap kita sebagai orang tuanya.

Meneruskan Asma Allah berikutnya adalah “Al-Haqq” yang artinya yang Maha Benar. Kata “Al-Haqq” terdiri dari dua huruf “kha” dan “Qoff” yang artinya mantap dan tidak berubah. Hanya Allah yang tidak pernah mengalami perubahan. Dunia akan berubah. Segala sesuatu yang kita miliki seperti harta, kedudukan bahkan wajah pun akan mengalami perubahan. Sifat “Al-Haqq” juga memberikan makna bahwa cahaya Allah sejatinya selalu menerangi hati kita. Hanya kita tidak sadar bahwa kita sering berlindung kepada selain Allah. Bapak kyai mengibaratkannya seperti matahari itu terus menyinari siapapun yang ada di bumi. Hanya manusianya yang sering kali berpindah pindah tempat untuk mencari perlindungan dari sinar matahari. Kita memang tidak menyembah Tuhan yang lain, tetapi kita mengandalkan yang lain (materi) misalnya. Kita melaksanakan syari’ah tapi kita tidak tahu basis syari’ah itu sebenarnya, bahkan kita mungkin melupakan aqidah. Jangan bangga dengan amaliah kita jika didedikasikan untuk selain Allah. Jika ini terjadi, maka ini merupakan “Kecelakaan Rohani” dalam diri kita. Hanya Allah yang patut disembah. Segala yang bersumber dari-Nya pasti benar. Dari sifat “Al-Haq” bapak kyai juga memberikan makna bahwa Allah adalah Sang “Maestro Kehidupan” yang sedang melukis keindahan kehidupan hamba-NYA. Namun tidak semua hamba mampu memahaminya atau mengambil pelajaran. Keindahan tidak selalu tampak indah, keindahan kadang tidak manis bahkan sebaliknya. Beliau memberikan analogi sebuah lukisan “ayam tarung” karya seniman ternama Afandi. Banyak orang menilai lukisan itu sekadar coretan-coretan yang tidak jelas bentuknya. Bahkan mulut ayamnya saja tidak tampak. Namun lukisan itu telah dibanderol milyard rupiah. Menurut beberapa orang lukisan itu justru memiliki nilai yang agung. Hanya beberapa orang saja yang memilki kemampuan membaca dan memaknai lukisan tersebut.

Pengajian ini diakhiri dengan pesan Kyai untuk selalu melafalkan La ilaha illa Allah Al malikul haqqul mubin dengan harapan Allah akan selalu memberikan pertolongan kepada kita dari jalan yg tidak disangka-sangka dan mampu menjauhkan serta terhindar dari segala macam fitnah. Tepat pukul 10.00 wib pengajian ditutup karena beliau tidak mau pengajian ini terlalu menyita banyak waktu “reuni” antara walisantri dan anaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *